Mencintaiku

Sudah lama rasanya kita tak bercengkrama berdua. Hanya berdua. Kau dan aku. Rindu kepadamu sudah di ubun-ubun. Aku tak canggung lagi untuk mengatakan rindu kepadamu, lebih tepatnya kepada orang yang aku anggap sangat kukenal, dan sangat mengenaliku.

“Aku rindu.”

“Kau atur saja.” Balasnya.

Saat ini juga! Aku ingin bertemu saat ini juga. Lalu kuatur segala sesuatu agar kita dapat bertemu.

Malam itu, kita berdua melepas rindu. Aku tahu kaupun rindu padaku. Aku dapat melihat sorot matamu yang masih sama seperti dulu. Caramu memandangku – hangat dan penuh cinta.

Pelukmu adalah rumahku. Sungguh tak ada tempat yang lebih nyaman dari ini. Ketika aku dapat mendengar detak jantungmu dengan jelas, ketika aku dapat mencium aroma khas tubuhmu, ketika kau begitu dekat, ketika kudekap kau erat dan kau dekap lebih erat.

Mata kita bertemu. Tak ada sepatah katapun keluar. Namun kuyakin beribu kalimat rindu yang kubaca. Kau juga dapat membaca mataku, bukan?

Kecupmu adalah perasaan tenang sekaligus gugup yang bercampur di dalam tubuhku. Sentuhan lembutmu membuat dunia serasa berhenti berputar. Sungguh!

Denganmu yang ternyata masih disini, membuatku lupa akan semua hal-hal buruk yang telah terjadi.

Denganmu yang ternyata masih disini, membuatku tak ingin lagi mengingat semua kesalahpahaman kita.

Denganmu yang ternyata masih disini, membuatku mempercayaimu lagi.

Denganmu yang ternyata masih disini, membuatku tahu bahwa kau masih yang dulu.

Mencintaiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s